Sebuah senyuman?
Entah mengapa ini yang teringat pertama kali dalam rangkaian kata-kata dibenakku. Mungkin... mungkin karena aku sempat melihat sepasang mata bening itu sendu ketika sedih itu jelang. Aku juga masih melihat air mata itu belum juga kering setelah semalaman tangisan itu ada. Mungkin...dan aku terus berharap agar senyuman itu ada pada keesokan harinya. Karena dengan begitu, sepasang mata bening itu akan terlihat indah. Dan aku tidak akan bosan-bosan untuk memujanya.
Sebuah seyuman sangat berharga nilainya ketika sedih itu menemani hari, ketika luka itu menggores dan menyisakan perih, ketika kecewa itu datang, ketika benci itu menghampiri, dan ketika hampa itu terasa. Sunyi... Maka tidak ada salahnya untuk menengadahkan wajah memandang birunya langit, melihat awan yang berarak, menikmati lembutnya rembulan malam, dan menghitung gemintang yang bertebaran. Di sana...di langit biru. Aku berpikir menjadi manusia kecil lengkap degan sepasang sayap yang bisa membawaku terbang setinggi-tingginya untuk memetik bintang-bintang itu yang juga terlihat kecil-kecil. Dan bila mungkin akan ku kantongi bintang-bintang itu untuk ku serahkan kepada mama dan papa sebagai hadiah istimawa karena mereka telah menemaniku dengan dongeng-dongeng mereka. Mereka cukup setia menemaniku, sampai aku tertidur. Aku berpikir, bintang-bintang itulah yang pantas ku persembahkan pada mereka setelah aku melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkannya. Terbang ke langit biru. Namun aku sadar itu tidak mungkin. Tapi seperti itulah hayalan di waktu kecilku. Dan aku bisa tersenyum kare-nanya.
Kamu pun bisa untuk tersenyum, karena itu lebih baik ketimbang menangis. Sedangkan banyak hal yang mampu menghadirka senyum itu., di bibir indahmu.
Tersenyumlah dan jangan pernah coba-coba menahan karena tidak begitu sehat untuk kecantikan wajah kamu dengan kulit halus sebagai pembungkusnya. Sebuah senyuman akan membuat kecantikan itu lebih sempurna, pada parasmu.
Aku sempat memandangi rembulan dipenghujung malam
Ingat pun membawa serta seraut paras halusmu
Dalam senyum...
Dalam heningnya malam...
Betapa hati ini berasa membisikan kalimat rahasia
Ternyata, parasmu lebih lembut dari sinar rembulan itu
Rembulan itu muram
Rembulan itupun enggan
Melewati malam yang hampir berakhirAku tau dia cemburu pada kecantikan parasmu.
Jumat, 08 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar